Minggu, 27 November 2011

Lupa, Sifat Wajar Manusia yang Sulit Dihindari

PART 2 of 2
Sebelumnya saya sudah posting mengenai penyebab dari sifat pelupa, kan? Nah, buat teman-teman yang senasib dengan saya, saya mau bagi-bagi tips nih, sekedar mengurangi sifat pelupa. Itung-itung juga mengurangi efek buruk dari pelupa. Yuk, cap cuzz...~


  1. Punya rencana
    Tulis daftar semua rencana, termasuk hal kecil sekalipun. Coret yang sudah dilakukan atau sudah terpenuhi. Lama-lama pasti akan terbiasa dan tidak (cepat) lupa.
  2. Lebih Rapi
    Barang-barang banyak yang tertinggal, lupa menaruh di mana? Tempatkan barang-barang pribadi di tempat yang rapih, jadi bisa dengan mudah dicek. Jangan sembarangan meletakkan sesuatu.
  3. Jangan Panik
    Sikap panik membuat seseorang semakin lupa akan sesuatu yang berusaha dia ingat, karena itu jika sedang panik tenangkan diri terlebih dulu dan ingat-ingatlah denga tenang apa yang ingin diingat, tarik napas dalam-dalam. Karena dalam keadaan tenang seseorang bisa mengingat dengan lebih mudah.
  4. MengulangSering-sering mengulang apa yang hendak diingat cukup membantu memudahkan ingatan untuk hal-hal yang penting.
  5. Minta tolong teman
    Coba deh, minta tolong teman atau pacar *ehem* untuk membantu menghilangkan sifat pelupa. Misalnya ketika ada tugas dan kamu nggak ingat, sebaiknya sebelum itu minta tolong untuk diingatkan nantinya.
  6. Pakai reminderYang paling ampuh sih minta tolong pada reminder di ponsel. *hoho,, ampuh bangeet*. Atau bikin notes di wallpaper laptop dan ponsel, lagi ngetrend nih. Bikin notes di memo juga bisa. :)

  7. Jangan menunda
    Nah, dari semua poin itu bisa membantu mengatasi sifat pelupa kalau segera dilakukan. Menunda segalanya justru akan 'menumpuk' tanggungan dan menambah sifat pelupa.
Selamat Mencoba ya ^^
Semoga bermanfat dan nggak lagi jadi Miss Pikun.
"Mencoba adalah hal kecil yang bisa mengubah hidup sesorang"

Lupa, Sifat Wajar Manusia yang Sulit Dihindari (1 of 2)

PART 1of 2
Jangan tanya kenapa saya posting yang beginian. Sudah jelas, karena saya pelupa. Sungguh malang, saya sendiri nggak tahu kenapa bisa pelupa. Yang jelas karena sifat ini semasa SMA saya dijuluki 'Miss Pikun'. Sebenarnya apa sih, yang membuat kita jadi pelupa? Ternyata banyak lo, penyebab sesorang jadi pelupa. Coba deh, cek yang di bawah ini.



  1. Kadar Gula Darah Tinggi
    Dengan kadar gula darah yang tinggi ternyata bisa menyebabkan penyimpanan memori tergangu *oooh, saya baru tahu* Bagian otak yang berhubungan dengan memori bisa terganggu lho. Kalau punya riwayat keluarga penderita kencing manis, kendalikan asupan gula, juga lakukan tes gula darah secara rutin. Oya, jalan kaki termasuk salah satu alternatif mencegah diabetes, atur pola makan juga ya.
  2. Kurang Istirahat
    Istirahatlah yang cukup, terutama bagi para mahasiswa yang hobi begadang nih. Cobalah istirahat enam menit saat merasa lelah kalau nggak ada waktu untuk istirahat. Ini bisa meningkatkan kerja otak dan memicu proses memori penting dalam otak.
  3. Mendengkur
    Ternyata mendengkur juga bisa menurunkan daya ingat, lho. Saat mendengkur, napas kita terblokir, sehingga memotong oksigen untuk beberapa detik sehingga  menyebabkan sel-sel otak "kelaparan".
    Pendengkur pada umumnya adalah pria atau karena kelebihan berat badan dan berusia lebih dari 40 tahun.
  4. Metabolisme Menurun
    Jia metabolisme menurun, kemungkinan ada masalah tiroid yang mengontrol metabolisme tubuh. Kalau produksinya terlalu banyak/sedikit bisa mengganggu sel otak, sehingga informasi yang masuk terganggu.
  5. Usia Lebih dari 65 Tahun
    Vitamin B12 sulit diserap pada masa-masa usia ini. Kekurangan B12 serius bisa menyebabkan Alzheimer atau pikun. Selain manula, penganut vegetarian juga sering kekurangan vitamin B12.
  6. Depresi
    Penderita depresi mengalami gangguan sel-sel otak. Bahkan bisa membnuh sel otak hingga daya ingat menurun. Masalahnya, makin banyak sel-sel otah yang hilang, daya ingat makin sulit ditingkatkan.
  7. Mengonsumsi Obat Alergi atau Pil Tidur
    Ternyata obat-obatan (seperti obat mengatasi masalah insomnia, alergi dan gangguan encernaan) juga bisa mngganggu fungsi otak. Oleh karena itu, konsultasikan dulu sebelum meminum obat tersebut.
  8. Terlalu Banyak Konsumsi Obat
    Mengonsumsi lima atau lebih obat, beresiko tinggi terganggu daya ingatnya. Pastikan dokter tahu semua obat tersebut. Sebaiknya jangan terlalu banyak mengonsumsi obat bebas, konsumsi obat sesuai dengan resepnya.
Nah, itu yang saya dapat setelah membaca sebuah situs dan menulis kembali di blog saya. Semoga bermanfaat :)

"Kegagalan tidak akan pergi dengan sendirinya kalau bukan kita yang berusaha menghindarinya"

Senin, 21 November 2011

Numpang Promo

     
    Waktu grusak-grusuk folder di PC, tahu-tahu nemu file lama yang sudah lama tidak kubuka.
Hmm,,, lumayan, masuk 50 nominasi LCCG (Lomba Cipta Cerpen Gaul). Sayangnya aku lupa pernah dimuat di tabloid Gaul edisi berapa? T~T

    Begitu tahu cerpenku dimuat, aku langsung membeli tabloidnya. Sampai di rumah langsung kupanggil Mamaku *ceritanya mau pamer ke Mama*
    1...2...3... Kubuka halaman yang memuat cerpenku. Gubrak T~T Cerpenku ada, sih. Tapi namaku tertutup gambar. Hiks. Seolah cerpen itu dibuat oleh anonym. Tak apalah, masih bisa bangga sedikit...
    Langsung saja, check it out.

Tittle:


Skandal Cerpen

-     Cerita harus orisinal (asli)
-     Panjang naskah maksimal 10 ribu karakter / 8 halaman HVS
-     Naskah diketik 1,5 spasi
-     Peserta lomba wajib menyertakan bla, bla, bla, bla…
Well, ini kesempatan buat gue, Dhen!” aku memekik keras saat membaca sebuah pengumuman lomba cerpen dalam sebuah majalah terkenal.
So, jangan lo lewatin, ‘Nda,” respon Dhenia seraya melepaskan cengkeraman tanganku dari pundaknya yang sempat menjadi sasaran empuk untuk kuguncang-guncangkan.
Okay, semangat! Majalah ini kan majalah paling top, pasti saingan gue banyak, berarti gue harus berusaha sebaik mungkin!” kukepalkan tanganku penuh percaya diri. Aku memang bukan seorang penulis, tapi cerita-cerita yang pernah kubuat sudah banyak, hanya saja nggak pernah dipublikasikan, karena aku nggak pernah mengirimkannya ke penerbit atau redaksi majalah.
“Gue dukung lo, ‘Nda! Betewe, sorry ya, gue baru kasih tahu lo sekarang kalo ada lomba cerpen. Dua minggu cukup, kan, buat nyelesain cerpen lo?” tanya Dhenia sedikit menyesal.
It’s okay lah, Dhen! Lo kasih tahu aja gue udah seneng, kalaupun lo kasih tahu tiga hari sebelum tanggalnya, gue pasti bisa nyelesain!” kataku yakin.
Setelah ngobrol-ngobrol sedikit dengan Dhenia, aku bergegas pulang ke rumah. Semangatku untuk mengikuti lomba cerpen lagi berkobar-kobar, nih, jadi aku ingin cepat sampai rumah dan langsung mengerjakan cerpenku.
Walaupun kemungkinan besar yang mengikuti lomba cerpen tersebut berjuta-juta orang, tapi aku harus yakin bahwa aku pasti bisa. Aku sengaja tidak mengirimkan karyaku yang lama, aku ingin membuat cerpen baru yang lebih bagus. Ya, aku pasti bisa membuat cerpen yang bagus dan menarik! Aku yakin!

Tik-tak, tik-tak, tik-tak…

Well, okay! Mungkin optimismeku terlalu berlebihan. Sudah lewat sekitar satu jam sejak aku tiba di rumah, tapi aku masih belum menemukan tema dan jalan cerita yang pas untuk cerpenku. Hwaaah, kalau otak lagi buntu, gini nih, sulit banget untuk berinspirasi.
Kurebahkan tubuhku di kasur, lalu mulai berpikir lagi. Aku ingin sekali membuat cerita yang menarik, tapi kenapa sulit bangeeeet!?
“Kalau cerita patah hati udah biasa, kalau tentang menduakan dan diduakan juga udah biasa…” aku mulai ngoceh sendiri. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benakku. Kalau sudut pandangnya dibuat berbeda mungkin lebih unik. Jadi, akan kubuat cerita tentang orang yang menduakan, hanya saja dalam sudut pandang si orang ketiga alias yang menjadi selingkuhan.
Aku tersenyum sendiri, “umh, kayaknya lumayan unik. Kalau kubuat dengan gaya bahasa yang bagus pasti bisa menjadi cerita yang menarik.”
Maka mengalirlah ide di kepalaku,  jemariku mulai lincah bergerak-gerak di atas keyboard laptopku. Selama satu jam itu aku berkutat di depan laptop sambil terus komat-kamit merangkai kata-kata yang menarik.
“Hhh, susah!” aku mengeluh pelan. Setelah mendapat kira-kira tiga halaman, aku membaca ulang hasil karyaku, tapi aku belum puas, sebab ceritaku sepertinya nggak bisa menarik si pembaca ke dalam dunia cerita itu. Kurang sreg, gitu. Maklum lah, kalau cerita itu adalah kisah nyataku, mungkin aku bisa membuat cerita itu sedikit lebih hidup.
Drrrt…! Drrrt…!
Bersamaan dengan getaran dan bunyi ringtone ‘crush on you’-nya Tata Young, layar LCD handphoneku menampakkan sebuah nama, Aris.
“Yoy, ada apa, Ris?” tanyaku.
“Nggak kok, biasa, iseng doang. Ganggu, nih?” sahutnya dari seberang. Aris adalah sahabatku sejak SMP, sekaligus pacar Dhenia. Aku dan Dhenia sahabatan mulai kelas 1 SMA, sampai akhirnya lima bulan lalu Aris dan Dhenia jadian, udah deh, sejak itu aku jadi nyamuk di antara mereka.
“Sedikit, gue lagi serius bikin proyek, nih,” ujarku.
“Cerpen, kan? Gue tahu, tadi Dheno’ cerita. Makanya gue telepon, pengen gangguin bentar,” kudengar Aris sedikit terkikik.
“Dasar! Udah ah, kalo nggak ada kepentingan nggak usah telepon, mau pamer pulsa?” ledekku.
“Duh, sewot. Nggak kok, sebenernya gue pengen curhat bentar,” katanya kemudian. Aku hanya diam, menunggu kalimat selanjutnya. “Seminggu lagi setengah tahunnya gue sama Dheno’, enaknya gue kasih kado apa, ya?” tanya Aris.
“Oh iya, ‘ntar kalian udah setengah tahun, ya. Berarti perutku ini musti kebagian seneng, dong,” aku meringis walaupun aku tahu Aris nggak mungkin melihat senyum anehku itu.
“Tenang deh, gue traktir kok,” sahutnya.
Aku tertawa lebar, “itulah sahabat terbaik, yang selalu membuat sahabatnya senang, hehehe…”
“Eh, gue kan mau minta solusi sama lo, kok jadi ngomongin traktiran? Jadinya gue kasih apa sama si Dheno’?” Aris membelokkan pembicaraan.
“Dheno’ kan suka jerapah, kenapa nggak dikasih boneka jerapah?” usulku.
“Aduh, ‘Nda. Boneka jerapahnya dia udah bejibun, kemarin-kemarin aja gue udah kasih dia boneka jerapah, yang kreatif dikit kek, kalo jadi orang.”
“Heh, lo mau minta usul atau ngeledek, sih? Lo buang waktu gue aja,” ujarku kesal.
“Sorry, deh. Ya udah, lo kerjain dulu cerpennya, besok lo ikut gue cari kadonya si Dheno’,” kata Aris dan langsung kuiyakan saja. Jujur aja, sekarang aku lagi nggak konsen, otakku udah nyangkut di cerpen, sih.
Begitu telepon Aris terputus, aku langsung menyatukan diri dengan otakku yang masih nyangkut di laptop. Satu malam itu aku berpikir keras agar cerpenku bisa selesai dengan sempurna. Tapi aku memang nggak bisa memaksa, sulit sekali membuat cerpenku sedikit hidup. Kalau saja aku pernah mengalaminya, mungkin aku bisa dengan mudah membuatnya.
“Iya juga, ya. Kalau gue pernah mengalaminya, mungkin gue bisa membuat cerita dengan lebih bagus,” sebuah ide buruk tiba-tiba terlintas. Tapi siapa ya, yang bisa gue jadiin objek sasaran? Aduuh, ‘Nda, jangan ambil resiko, deh! Bego, lo!
“Hoy, Shalinda Elmerani! Bengong aja!” sebuah suara menegurku.
“Eh, apa? Barusan lo ngomong?” sahutku sedikit terkejut. Kulihat Aris tengah berdiri di hadapanku sambil memegang sebuah topi berhiaskan kepala jerapah di tangan kanannya dan sebuah tas bahu berbentuk kepala jerapah di tangan kirinya.
“Yah, ngelamun! Jadi gue musti pilih yang mana, nih?” tanyanya sambil menimbang-nimbang kedua benda yang dipegangnya.
“Yang pasti jangan topi, bego! Emang Dheno’ anak TK yang pake topi begituan?”
“Ya udah, berarti tas, kan?” tanya Aris lagi. Sebuah pertanyaan yang nggak perlu kujawab.
“Ris, makan dulu ya. Gue laper, nih,” rengekku.
Akhirnya setelah membayar belanjaan Aris di kasir, aku langsung menariknya menuju sebuah stand penjual makanan. Seporsi bakso langsung kulahap begitu tersaji di hadapanku.
“Buseng deng, nggak jaim banget lo, ada cowok di sini, non,” Aris menatapku aneh.
“Biahi, kunga hu goang aha… (biarin, cuma lo doang aja)” jawabku dengan makanan penuh di mulut.
“Lo sama aja dari dulu,” Aris melemparkan gumpalan tisu ke arahku, tapi luput. Aku menghindar cepat. Setelah itu kami terdiam beberapa detik, hingga Aris mulai bicara lagi.
“Eh, kita udah lama nggak makan berduaan aja kayak gini, ya?” celetuknya pelan.
“Iya, sejak lo jadian sama Dheno’, lo kan nggak pernah ngajak gue pergi.”
“Lo sendiri nggak ngajak,” tukasnya.
“Mana mungkin gue ngajak pergi pacar orang lain? Gila apa?”
“Kalo ngajak pacar lo sendiri?” tanyanya. Aku melirik aneh.
“Aneh lo, ya jelas nggak masalah dong! Pacar, pacar gue sendiri.”
“Coba dulu gue nembak lo,” kata Aris dengan entengnya membuatku tersedak.
“Uhuk, gila lo! Dheno’ dikemanain?” aku sedikit tertawa, kupikir dia hanya bercanda.
“Lo nggak pernah serius, sih, lo juga nggak peka. Makanya cinta gue sejak SMP dulu nggak pernah lo sadarin.” Mata Aris menatapku, nggak ada pancaran humor di matanya.
God, serius nih? Si Aris gila banget, sih!
“Udah ah, nggak enak becandaannya,” aku berusaha mengalihkan. Tapi Aris masih menatapku, aku jadi salting dengan tatapannya.
Lalu dia tersenyum kecil, “iya, Dheno’ mau gue kemanain, ya?” ujarnya kemudian. “Coba aja gue nggak jadian sama Dheno’, sebenernya dulu gue pengen jadian sama lo, ‘Nda,” lanjutnya.
Aku tercekat. “K-kok… bisa?” tanyaku gugup.
“Gue jadian sama Dheno’ biar gue bisa ngelupain elo. Lo sih, lo bilang lo suka sama Tian, jadi saat gue patah hati itu gue putusin buat nembak Dheno’, buat pelarian maksudnya. Ternyata diterima, eh, malah keterusan sampe sekarang,” ceritanya sambil menerawang.
Ya ampuuun! Kenapa jadi tambah menjurus gini, seh? Mendingan gue tadi di rumah aja, ngerjain cerpen! Tiba-tiba satu kata terakhirku itu memberikan sebuah solusi cemerlang.
“Ya udah, pacaran yuk,” ujarku kemudian, singkat dan ngeboom. Aris terkejut mendengarku.
“Serius,” kuacungkan kedua jariku mebentuk huruf V. “Tapi kita backstreet dari Dheno’. Ya jelas lah ya, pokoknya jangan sampe Dheno’ tahu kalau kita pacaran, jadi…”
“Iya, gue tahu, jadi gue selingkuh, gitu kan?”
Aku mengangguk pelan, Aris balas mengangguk, lalu tertawa kecil.
“Haaah, gue jahat ya, ngeduain Dheno’ yang nggak punya salah,” ujarnya pelan. Aku hanya tersenyum kecut menanggapi. Dalam hatiku aku memaki diriku sendiri. Gue yang kejam, Ris! Selain ngerusak hubungan lo sama Dhenia, gue udah jadiin lo solusi buat nyelesain cerpen gue. I’m so sorry!
*     *     *

Hingga tepat setengah tahunnya Aris dengan Dhenia, Dhenia masih belum tahu tentang hubungan rahasia antara aku dan Aris. Yang jelas, aku merasa cerpenku semakin menarik, dan aku yakin kalau cerpenku bisa menjadi salah satu dari yang terbaik. Itu semua karena aku merasakan bagaimana menjadi orang ketiga.
“’Nda, gimana cerpenmu? Udah dikirim?” tanya Aris suatu hari, aku tersedak ludahku sendiri. Kaget sih, sebab Aris masih belum tahu kalau dia menjadi objek percobaanku. Kalau sampai dia membaca cerpenku, aku takut Aris akan sadar bahwa aku hanya mempermainkannya.
“Mmh, belum, masih dalam proses,” kataku tersendat.
“Bagus deh, aku pengen jadi orang yang pertama kali baca, jadi sebelum dikirim ke redaksi, kasih tau aku dulu, ya,” katanya sambil tersenyum manis.
“Oh, eh, maksudku dalam proses pengiriman. Udah kumasukin ke dalam amplop, jadi nggak bisa dibuka lagi,” bohongku.
“Oh, sayang kalo gitu, padahal aku pengen baca,” Aris kecewa. Aku hanya tersenyum kecut.
Mataku menyapu seluruh ruangan café, dan pada saat itulah aku mendapati satu sosok yang pernah kukenal, bahkan sangat kukenal.
“Gawat, Ris! Itu kan Dheno’!” aku memekik pelan. Aris mendelik, lalu menoleh ke belakang. Dari tempatku, aku bisa melihat dengan jelas sosok Dhenia yang sedang berjalan menuju sebuah meja bersama teman satu kursusnya. Dengan gesit kutarik lengan Aris menuju pintu keluar. Pokoknya kita harus pergi dari tempat ini sebelum kepergok sama Dheno’!
Kejadian seperti ini sudah dua kali terjadi sebelumnya, saat aku dan Aris lagi pegangan tangan tiba-tiba Dhenia nongol gitu aja. Udah deh, kita kelabakan dan terpaksa berbohong pada Dhenia. Yang kedua saat kita jalan bareng ke mal, eh, malah ketemu Dhenia di sana. Kita bilang aja kalau kita kebetulan ketemu. Haduuuh, susahnya jadi orang ketiga!
Begitu tiba di luar café, aku dan Aris baru bisa bernafas lega.
“Gila! Untung aja Dheno’ nggak liat kita! Kalau sampe kita kegap lagi, mungkin dia bakalan sadar kalo kita bohongin dia,” aku mengusap peluhku sambil tertawa kecil.
“Iya,” Aris bersandar di sebuah tembok. Selama beberapa menit kami sama-sama terdiam. Kutatap Aris yang tengah memejamkan mata sambil menghela nafas dalam-dalam. Rasanya dia semakin dewasa, kalau melihatnya dari samping seperti ini, aku merasa ada kesejukan di hatiku. Aneh, tapi itu yang kurasakan sejak beberapa hari terakhir ini, sejak aku sering jalan dengan Aris. Padahal sebelumnya nggak pernah, apa karena status palsu yang kusandang, sehingga ada sedikit perbedaan dengan caraku memandang serta memperlakukan Aris ketimbang hari-hari sebelumnya, sebelum aku dan Aris ‘pacaran’?
            “’Nda,” panggil Aris. Aku gelagapan begitu Aris mendapatiku sedang menatapnya.
            “Eng, apa?”
            “Aku capek kalo kayak gini terus, tiap pergi musti sembunyi-sembunyi, musti bohong gini-gitu sama pacar sendiri,” Aris berhenti sejenak. Jantungku berdetak keras, sepertinya aku tahu apa yang akan dikatakan Aris sebentar lagi.
            “Kalo kita udahan, gimana?”
            DEGH! Aku tahu suatu saat hal ini pasti terjadi. Aku sadar Aris hanyalah objekku, tapi kenapa sakit sekali dadaku saat Aris mengatakan itu? Sejak awal seharusnya aku tahu, aku nggak perlu melakukan hal ini. Kalau sudah begini, kalau cinta mulai ikut campur, semakin rumit, kan?
            “Aku nggak bisa, Ris,” kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku.
            “Tapi aku udah capek, ‘Nda,” ujarnya putus asa.
            “Aku nggak bisa, Ris. Aku nggak bisa lepas dari kamu,” kataku memelas. I’m so sorry, Dhen! Tapi aku nggak bisa mungkir…
            “Sorry, ‘Nda. Setelah kupikir-pikir, perasaan yang dulu itu udah nggak ada. Aku sadar kalau ternyata aku lebih sayang sama Dhenia,” suara Aris begitu tegas.
            Kuasakan air mataku mulai menitik. Tuhan, kenapa aku jadi begini? Aku bingung! Aris memang pacar Dhenia, tapi kenapa aku nggak mau lepas dari Aris?
            Semakin lama aku semakin terisak, aku sendiri bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba saja tubuhku bergerak memeluk Aris. Aku menangis dalam pelukannya. Isak tangisku terdengar di sela-sela deru kendaraan yang berlalu lalang.
            Aris menyambut pelukanku, mengelus pundakku pelan.
            “Maaf, ‘Nda. Aku benar-benar nggak bisa nerusin ini, maaf…” ujarnya setengah berbisik.
            Dari sorot matanya bisa kulihat bahwa Aris tidak sedang berbohong. Haruskah kuakhiri semuanya? Kuhela nafasku dalam-dalam, berusaha melepaskan semua bebanku. Ya, mungkin itu lebih baik bagi Aris…
            “Aku cinta sama kamu, Ris,” suaraku parau.
            Aku bangun dari pelukan Aris, saat itulah aku melihat seseorang tengah berdiri di belakang Aris, menatap kami dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
            “Dhenia?” aku terkejut, begitu juga Aris yang langsung salah tingkah.
            “Kenapa kamu musti bohong, Ris? Kamu bilang nganterin Mama kamu ke mal,” Denia berhenti sejenak. “Jadi, ini Mama baru kamu?!”
            “Dhen, ini nggak seperti yang kamu pikir,” Aris menjelaskan, tangannya mencengkeram pundak Dhenia, berusaha meyakinkan.
            “Bullshit!!!” Dhenia menepis tangan Aris, ditatapnya Aris dengan nanar.
            “Sejak kapan kalian ngelakuin perbuatan kotor ini, hah?! ‘Nda, gue pikir lo sahabat gue, nggak tahunya…” Dhenia tersenyum sinis penuh amarah, kalimat terakhirnya itu ditujukan padaku.
            Good job, ‘Nda!!! Sekarang Dhenia udah tahu belang lo, dan lo bisa rasain kehilangan sahabat, kan? Belom kapok, lo? Mampus, rasain tuh cinta! Makan tuh cerpen lo!!!
            “Dhen! Gue nggak bermaksud kayak gitu…” aku berusaha meyakinkan Dhenia.
            “Gue nggak tanya! Yang gue tanya, sejak kapan kalian kayak gini?!!”
            Aku berjalan mendekati Dhenia, beberapa orang mulai memperhatikan kami, tapi aku nggak peduli apa komentar mereka. Yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Dhenia. Aku nggak ingin semuanya berakhir, persahabatnku dengan Dhenia, begitu juga dengan Aris. Ini adalah kesalahan bodoh yang pernah kulakukan! Tuhan, beri aku jalan keluar…
            Kurasakan air mataku semakin mengalir.
            “Sejak seminggu yang lalu, Dhen. Dan itu semua nggak serius! Gue manfaatin Aris supaya gue bisa ngebuat cerpen yang bagus! Supaya cerpen tentang selingkuh yang gue buat bisa lebih hidup! Aris nggak salah! Gue yang salah, gue manfaatin hubungan kalian berdua!!!” Semua kata-kata itu terlontar begitu saja. Aku nggak berpikir apa akibatnya, saat itu aku hanya berpikir bagaimana caranya agar aku bisa mengembalikan keadaan seperti dulu, saat-saat yang menyenangkan ketika kita bersama.
            Dhenia terlihat begitu terkejut. “Gila, lo!!!” dia menyumpahiku. Aku nggak bisa membalasnya, aku hanya bisa menangis, menyesali semuanya.
            Aris menghampiriku, menatapku dengan tajam, “haha… Gue bego banget. Congrat ‘Nda, lo udah berhasil ngebuat cerpen yang bagus. Semoga lo menang!” katanya sinis, lalu pergi meninggalkanku.
            “Well, selamat, ya! Lo udah ngerusak semuanya! Hubungan gue dan Aris, dan… persahabatan kita!” Dhenia berkata geram, dia menekankan intonasinya pada dua kata terakhir.
            “Thank’s banget, ‘Nda!” dia masih sempat menatapku dengan tatapan benci hingga akhirnya berlalu meninggalkanku.
            Kakiku lemas, aku jatuh terduduk di pelataran parkir café yang sedikit ramai. Beberapa orang menatapku iba, ada juga yang bertanya-tanya kepada temannya, apa yang sebenarnya terjadi. Tatapan iba mereka menghujamku, membuatku semakin merasa bersalah. Aku merasa bodoh, rendahan!
            Aku ingin sekali berteriak kepada orang-orang di sekitarku. Jangan kasihani aku, aku orang yang jahat, kejam, dan nggak perlu dikasihani!!!
            Aku bangkit dan bergegas menghentikan sebuah taksi yang lewat. Di dalam taksi, aku hanya bisa menangis, menangis dan terus menangis. Menyesali betapa bodohnya aku, seandainya saja sejak awal aku nggak melakukan ini, seandainya sejak awal aku nggak mengetahui lomba cerpen itu, seandainya saja sejak awal aku nggak dilahirkan!
*     *     *

            Dua bulan kemudian…
            “’Nda! Gimana? Lo naik kelas?” tanya salah seorang temanku padaku.
            “Iya, gue masuk XII.A.2,” aku tersenyum kecil.
            Dua bulan terasa sangat lama bagiku, apalagi harus kulalui sendirian. Ya, sejak kejadian itu aku, Dhenia, dan Aris nggak berhubugan lagi. Kita nggak saling menyapa kalau bertemu di sekolah. Rasanya sepi sekali.
            Yang kutahu, sejak kejadian itu aku jarang meihat Dhenia dan Aris bersama. Entah, apa mereka sudah putus, atau aku saja yang jarang melihat mereka, atau mungkin mereka memang sengaja menghindar dari orang kejam tak berperasaan ini.
            Cerpenku sudah kukirim. Dalam cerita itu aku bebas membuat jalan ceritanya karena akulah yang mengarang, tapi dalam kehidupan nyata, aku nggak bisa menentukannya. Satu hal yang kusadari, bahwa setiap tokoh utama nggak akan selalu mengalami happy ending. Aku nggak perlu menyebutkan siapa yang kumaksud, karena tanpa menyebutkannya kalian pasti sudah tahu.
Awalnya aku sempat bingung ketika membuat endingnya. Hingga akhirnya kubuat si orang ketiga pergi dari kehidupan mereka. Aku ingin membuat happy ending, bukan seperti kisahku. Lumayan, aku bisa meraih juara dua, tapi entah kenapa aku nggak merasa senang. Mungkin karena nggak ada Dhenia yang selalu mendukung dan memujiku seperti biasanya.
            Aku menyusuri sepanjang koridor sekolah sambil menyapa beberapa orang yang berlalu lalang. Saat itulah aku melihat Dhenia sedang tertawa ceria bersama seseorang, ternyata Aris. Dari kejauhan kulihat mereka sedang bercanda, tiba-tiba perasaan lega menyelimuti dadaku. Mungkin itu memang yang terbaik, mereka berbahagia tanpa aku.
            Sebenarnya aku enggan, tapi mau tak mau aku harus berjalan melewati mereka. Dari sudut mataku bisa kulihat Dhenia menatap sepanjang langkahku.
            “’Nda!”
            DEGH! Dia memanggilku?
            Aku menoleh perlahan.
            “Lo… naik?” Dhenia bertanya pelan dan sedikit ragu.
            Aku mengangguk sambil tersenyum kecil.
            “Syukur, deh,” Dhenia balas tersenyum. Kulihat Aris juga tersenyum. Untuk beberapa detik kami sama-sama terdiam. Jujur, aku ingin sekali berteriak sekeras mungkin. Disapa oleh seorang sahabat yang lama nggak saling menyapa, ternyata lebih menyenangkan dan mendebarkan daripada disapa oleh orang yang disukai!
* selesai *
Oya, jangan lupa kunjungi blogku yang satunya ya ^^ http://phoomiaw.blogspot.com/

"PENGKADERAN",,, penting nggak sih???



      Pengkaderan. Rupanya hal ini yang menjadi momok bagi mahasiswa baru di awal menginjakkan kaki di masa perkuliahan. Heran deh, kenapa maba mayoritas anti pada pengkaderan, tapi nggak ada yang berani menolak adanya pengkaderan? Kalau nggak suka bilang aja terus terang. Nggak berani? Nah, itu yang menjadi masalah. Nggak berani karena kalian sendiri belum tahu jelas apa alasan kalian menolak pengkaderan.
      Tapi sebenarnya perlu dipertanyakan juga lho, apa yang menyebabkan mayoritas maba menolak adanya pengkaderan? Apa yang salah sih dari pengkaderan? Kalau ditelusuri lebih dalam, ternyata yang menjadi masalah inti ada dalam paradigma (cara pandang). Beberapa senior masih ada yang berpegang pada pengkaderan gaya jadul, yang pake aksesoris-aksesoris alay itu loh. Kalau memang ada tujuan yang jelas, masih bisa diterima. Tapi kalau cuma buat kepuasan senior sih nggak banget. Seharusnya kita perlu belajar dan sedikit mencontek pengkaderan di negara luar. Dimana di sana diperkenalkan budaya-budaya akademik serta bagaimana menjaga rasa aman dan nyaman dalam belajar.
      Nah, itulah pengkaderan yang ideal. Setelah menggabungkan beberapa pendapat didapatlah beberapa konsep pengkaderan yang ideal , diantaranya:
  • Mengkader mahasiswa baru menjadi mahasiswa seutuhnya.
    Mahasiswa seutuhnya adalah mahasiswa yang cerdas secara akademik sekaligus dalam berorganisasi.
  • Memanusiakan manusia, bukan mencetak robot
    Sebuah organisasi bukanlah menciptakan robot yang selalu bisa menurutinya, melainkan mencetak manusia yang betul-betul manusia yang bisa berpikir lebih luas dan mungkin bisa menciptakan sesuatu yang baru dalam organisasinya.
  • Memberi pendidikan yang sejelasnya.
    Bukan hal-hal aneh yang kurang jelas tujuannya. Karena pengkaderan bertujuan untuk membentuk karakteristik mahasiswa baru, bukan untuk meng'galau'kan mahasiswa baru.
  • Membuat mahasiswa baru datang dengan lapang dada.
    Kalau maba datang dengan ogah-ogahan karena belum tahu tujuan sebenarnya pengkaderan dan karena syarat-syaratnya yang aneh, tandanya pengkaderan itu masih bergaya jadul.
Dari situ bisa diketahui kan, pengkaderan di kampusmu masuk pengkaderan modern atau masih bergaya jadul? Yang modern lebih keren lho, selain nggak ribet, banyak ilm yang bisa kita dapat.
      Jadi, kesimpulannya pengkaderan itu penting nggak sih??? Jawabannya jelas, pake huruf kapital tebal digaris bawah: PENTING BANGET. Tapi pengkaderan yang seperti apa dulu? Yang jelas, pengkaderan yang ideal dong. Yang mampu membentuk karakteristik baik dalam diri kita untuk kedepannya. ^_^


source:

Senin, 14 November 2011

Guillian Barre Syndrome (GBS)



    Guillian Barre Syndrome. Ada yang pernah dengar nama ini? Jujur saja, aku pun baru pertama kali mendengar nama ini. Aku mempunyai alasan tersendiri mengambil penyakit ini untuk dibahas dalam blog. Mau nggak mau, disini saya harus sedikit curhat.
    Penyakit ini sudah menyerang kakak seniorku di SMA Taruna Dra.Zulaeha, Mbak Putri Kharisma Dewi. Mbak Putri sekarang sudah kuliah di FKG Unej semester 3. Prestasinya bagus, namun sayang harus terhenti karena saat ini sedang terbaring lemas di Rumah Sakit karena terserang GBS.

    Bagi yang belum tahu apa itu GBS, bisa disimak berikut ini.

  • What is Guillian Barre Syndrome?
         GBS merupakan penyakit langka dan mahal yang menerang sistem saraf, menyebabkan tubuh menjadi lemah kehilangan kepekan yang biasanya dapat sembuh sempurna dalam hitungan minggu, bulan atau bahkan tahun.
  • Apa penyebabnya?
         Penyebab dari penyakit ini secara pasti tidak pernah diketahui. Sindrom ini bisa menyerang seluruk kalangan manusia, namun penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata yang terserang penyakit ini berusia 30-50 tahun. GBS merusak bagian-bagian saraf dan itu menyebabkan timbunya rasa seperti kesemutan, otot lemas, dan dalam kasus Arvi, kelumpuhan. Karena banyak saraf yang terserang, termasuk saraf imun, maka sistem imun pun kacau. Dengan tanpa sadar ia akan mengeluarkan cairan-cairan sistem imun di tempat yang tidak diinginkan.
  • Bagaimana gejalanya?
        Penderita GBS mulanya akan merasakan hal-hal berikut ini
           Gejala awal:
               * Tak bisa merasakan refleks tangan dan kaki
               * Tekanan darah rendah
               * Mati rasa
               * Lemah otot atau kelumpuhan:
                  - Dalam kasus ringan, yang dialami hanya lemas
                  - Bisa terjadi di tangan dan kaki berbarengan
                  - Bisa memburuk dalam jangka waktu 24-72 jam
                  - Bisa saja hanya menyerang saraf kepala
                  - Bisa dimulai dari tangan lalu turun ke kaki atau sebaliknya
           Gejala selanjutnya:
               * Sulit bernapas
               * Tidak bisa menarik napas dalam-dalam
               * Sulit menelan
               * Terus menerus mengeluarkan air liur
     Memang, nasib manusia siapa yang tahu? Aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Mbak Putri. Mohon doanya juga dari teman-teman. Untuk lebih jelasnya, silahkan kunjungi blog khusus Pray for Putri di http://media-herbal.blogspot.com/2009/08/penyakit-gbs-guillian-barre-syndrome.html. Terima kasih unuk yang sudah mendoakan, semoga selalu diberi kesehatan. Amin... :')

Kamis, 10 November 2011

SI ku, SI mu, SI kita

this is my Information System ^^
Isi Hati Sang Jembatan Menuju Rumah Allah
Entah aku harus memulai darimana, mungkin lebih baik ketika suara adzan maghrib berkumandang dari kejauhan. Beberapa mahasiswa yang baru saja menyelesaikan mata kuliahnya di hari itu, berhamburan ke arahku. Mereka berlomba melepaskan sepatunya dan berlarian sambil berebut memasukiku.
Bisa kulihat wajah mereka yang datang, terutama yang berhasil sampai pertama kali di tempatku, seketika kecewa saat mengetahui aku tidak memberikan kelegaan dan justru mempersulit mereka.
Aku, satu-satunya tempat wudhu yang ada di Jurusan Sistem Informasi. Jurusan Sistem Informasi letaknya terpisah dari fakultasnya. Gedung jurusan Sistem Informasi berada di bagian depan kampus ITS, tepatnya di samping kiri Graha Sepuluh Nopember. Setiap hari, ketika tiba waktu shalat bagi yang beragama muslim, para mahasiswa seringkali melaksanakan shalat di mushala. Tidak hanya warga Sistem Informasi saja, warga Teknik Industri dan D3 mesin yang masih berada satu wilayah pun mendatangi mushala ‘bersama’ ini. Tak elak, aku pun pasti digunakan setiap hari oleh mereka. Aku senang mereka bisa memanfaatkan keberadaanku dengan baik, karena aku senang bisa membantu mereka. Tapi yang aku herankan, di saat senja tiba, aku terkadang tidak bisa membantu mereka. Itu bukan kemauanku. Entah mengapa, setiap maghrib tiba seringkali aku tak bisa mengeluarkan air  yang seharusnya mereka gunakan untuk berwudhu. Mereka tentu kecewa, karena tak ada lagi tempat wudhu selain diriku. Jalan satu-satunya adalah pergi ke Masjid Manarul, dan itu menyita waktu, karena waktu maghrib sangatlah singkat.
Aku sedih. Seharusnya di saat genting seperti itu aku bisa membantu mereka. Karena aku merupakan salah satu fasilitas yang penting di kampus ini. Andai saja aku selalu bisa membantu mereka yang hendak berwudhu, aku pasti senang. Karena itu, tidak seharusnya aku berhenti beraktivitas di saat senja. Bagi siapapun yang bisa membantu, tolong usahakan agar aku selalu bisa digunakan kapanpun ya.

Manakala senja tiba
Gelap. Dimana lampunya??? Entah, sungguh mengherankan sekali. Kamar mandi wanita yang hanya ada dua ruang di lantai bawah, keduanya tidak ada penerangan sama sekali. Lalu apa yang terjadi apabila di hari petang para mahasiswi hendak ke kamar mandi?
“Rek, temani aku, dong.” Pasti itu yang terucap. Jangankan di hari petang, di siang hari pun seringkali terdengar kalimat itu. Selalu mengajak teman untuk ke kamar mandi. Jelas saja, selain tidak memiliki penerangan, pintu kamar mandi lantai bawah pun mengkhawatirkan. Yang ditakutkan, saat menutup pintu tak ada yang tahu apakah pintu itu akan bisa dibuka lagi nantinya atau tidak.
Sungguh tragis. Keadaan seperti itu seharusnya diperbaiki demi kenyamanan pengguna. Apa kalian bisa membayangkan bagaimana bila keadaan ini diteruskan hingga semuanya benar-benar tidak bisa disebut sebagai fasilitas lagi? Tentu tidak nyaman.
Bukan warga, cleaning service, ataupun kajur yang harus bertanggung jawab. Siapapun yang menggunakan pun harus bertanggung jawab atas keamanan fasilitas ini. Kita menemukan sesuatu yang janggal, sebaiknya segera dilaporkan, entah pada cleaning service atau pihak lain yang ahli, setidaknya kita sudah berusaha memperbaiki keadaan. Setelah semuanya normal, giliran kitalah yang harus beraksi. Jangan mentang-mentang sudah ada ahlinya, kita seenaknya menggunakan fasilitas dan berpikir, “ah, kalaupun rusak pasti nanti ada yang membenarkan.” Salah banget. Sebagai pengguna yang baik, kita juga harus menjaga fasilitas yang ada, kan?

Rabu, 09 November 2011

Alangkah Lucunya (negeri ini)

Judul              : Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Sutradara        : Deddy Mizwar
Co Sutradara   : Aria Kusumadewa
Penulis            : Musfar Yasin
Pemain           : Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Raharjo, Jaja Miharja, Ratu Tika Bravani, Asrul Dahlan, Tio Pakusadewo
Penulis            : Citra Sinema
Durasi             : 115 menit



      Alangkah Lucunya (Negeri Ini) merupakan film bertajuk pendidikan dan komedi dengan Deddy Mizwar sebagai sutradaranya. Film ini adalah film pertama Deddy setelah sukse mengarahkan Naga Bonar, Naga Bonar (jadi 2), pada tahun 2007.
     Penulis naskah dalam film ini adalah Musfar Yasin, yakni penulis  naskah pada film Ketika, Kiamat Sudah Dekat, film ini menampilkan permainan acting dari beberapa pemenang Piala Citra seperti Deddy Mizwar sendiri, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo dan Reza Rahadian.
      Alangkah Lucunya (Negeri Ini) yang memiliki banak nilai moral dan sosial, mengisahkan tentang Muluk (reza Rahadian), pemuda penganguran yang sudah dua tahun lu.us sebagai seorang sarjana. Hanya saja ia merasa belum menemukan pekerjaan yang tepat. Namun ia tak pernah patah semangat, karena ayahnya, Pak Makbul (Deddy Mizwar), dan kekasihnya Rahma (Sonia) selalu memberi dukungan padanya.
     Suatu hari, ia bertemu dengan Komet (Angga) di sebuah asar, Komet adalah pencopet cilik yang telah mencopet barang milik pengunjung pasar. Kemudian,, Komet mengenalkan Jarot (Tio Pakusadewo), pemimpin besar dari sekumpulan copet, kepada Muluk. Ketika itulah Muluk mendapat ide dan kemudian menawarkan kerjasama pada Jarot. Ia mengatakan akan memanage setiap penghasilan mereka. Alasannya, dengan cara ini sedikit demi sedikit uang tersebut terkumpul sehingga para pencopet tidak perlu mencopet lagi, bahkan mempunyai usaha baru dengan bermodal uang tersebut. Kesepakatannya, setiap 10% dari hasil mencopet akan diberikan pada Muluk untuk disimpan. Jarot pun menyetujui ide cemerlang dari Muluk.
     Menadari anaknya akhir-akhir ini semakin sibuk, Pak Makbul mulai bertanya-tanya, apakah anaknya sudah mendapatkan pekerjaan? Muluk mengiyakan ketika dirinya ditanya oleh ayahnya. Pak Makbul begitu bangga saat Muluk mengatakan ia telah bekerja di sebuah Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia.
     Sementara itu, tanpa disadari semenjak perjanjian itu hubungan Jarot dengan pencopet-pencopet cilik itu semakin dekat, seolah mereka adalah sebuah keluarga. Selain itu para pencopet cilik juga diajarkan membaca, menulis serta melakukan aktivitas sehari-hari seperti yang dilakukan anak seusia mereka pada umumnya, seperti mandi dua kali sehari. Hingga akhirnya uang yang terkumpul kini mencapai hasil yang sungguh diluar dugaan. Muluk tak hanya menjadi manajer keuangan, ia mengajak kedua temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan), untuk mengajari anak-anak tersebut mengenai keagamaan dan kewarganegaraan. Kini pencopet-pencopet cilik itu mulai menjadi orang yang 'berpendidikan'. Namun, apakah itu bisa menghentikan mereka dari kebiasaan mencopet? Ternyata tidak, mereka beberapa kali sempat mencopet lagi, tentu saja Muluk dan kedua temannya menasehati mereka.
      Suatu hari, Pak Makbul dan Ayah Pipit serta Ayah Rahma ingin mengunjungi dan melihat-lihat tempat anak mereka bekerja. Mereka sepakat datang kesana hari itu. Begitu terkejutna Pak Makbul saat mengetahui apa yang selama ini Muluk kerjakan. Walaupun Muluk dan Pipit menganggap pekerjaan mereka adalah membanggakan, namun ternyata kedua ayah mereka menganggap mereka menghasilkan uang haram.
     Sejak saat itu perlahan Muluk mulai tidak aktif lagi dalam pekerjaannya, hingga akhirnya ia berhenti.
     Kini ia tak pernah lagi bertemu dengan pencopet cilik itu. Jutaan uang yang telah dihasilkan oleh pencopet-pencopet itu pun telah diserahkan pada Jarot untuk memanagenya sendiri.
     Suatu hari ketika Muluk sedang belajar mengemudi dan berhenti di sebuah kemacetan, ia tanpa sengaja melihat Komet sedang mengasong. Dan ternyata tak hanya Komet, teman-temannya pun begitu, ada pula yang menjadi loper koran. Muluk bangga bukan main melihat mereka tak mencopet lagi.
    Tiba-tiba ditengah kebahagiaan Muluk, datang Satpol PP yang membuyarkan dan menghebohkan jalanan. Pedagang asongan berlarian kebingungan termasuk Komet dan kawan-kawannya. Muluk segera berlari menyelamatkan Komet hingga Komet bisa lepas dari tangkapan petugas Satpol PP. Pekerjaan yang baik apabila mereka berdagang daripada mencopet, begitu kata Muluk. Tapi petugas Satpol PP tak menghiraukan perkataannya, hingga akhirnya Muluk yang bersikeras membela pedagang asongan pun diangkut oleh Satpol PP untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang juga menggagalkan Satpol PP menangkap para asongan tersebut.
     Komet dan teman-temannya berteriak histeris memanggil Muluk yang tengah duduk di atas mobil patroli didampingi petugas patroli. Hanya satu salam terakhir dari Muluk, acungan kedua jempolnya dengan senyuman tulus yang sangat dalam yang semakin membuat Komet dan teman-temannya terharu.
    Benar-benar menunjukkan ciri khas Indonesia, Alangkan Lucunya (Negeri Ini), mengandung nilai yang sangat kuat. Sungguh lucu, mereka (pedagang asongan) ditangkap saat sedang berusaha menghidupi diri mereka sendiri di tengah-tengah pahit manisnya kehidupan. Namun, para tikus berkaki dua dibiarkan begitu saja berkeliaran dalam manisnya kehidupan mereka.
    Alangkah Lucunya (Negeri Ini) ditampilkan secara ringan dan lebih mengena pada penontonnya. Dengan pemeran yang sangat ahli, naskah cerita yang sederhana dan tidak berlebihan, mungkin bisa menjadi fenomena tersendiri dalam industri perfilman, dimana film ini mampu berbicara secara kualitas dan akan dengan mudah disukai penonton. Sangat tidak rugi menonton film ini.

Selasa, 08 November 2011

Menulis itu nggak mudah!

     Tanggal 21 Oktober 2011 lalu kampusku mendatangkan seorang penulis, namanya Rudi Santoso. Beliau dosen di STIKOM Surabaya. Mungkin beberapa orang sudah kenal dan tahu ya, tapi saya belum, hehe >_<. Bagi yang belum tahu, saya tunjukin fotonya deh. Kan tak kenal maka tak sayang~

The right one is Mr. Rudi Santoso, who's wearing batik.
http://antonislecture.blogspot.com/2011_06_01_archive.html